Tagged: gangguan mental

Mengenal Arti Euforia dan Penyebabnya

Mengenal Arti Euforia dan Penyebabnya

Pernahkah Anda mengalami bahagia yang berlebihan? Nah, hati-hati, bisa jadi Anda sedang mengalami euforia. Arti euforia sendiri adalah adanya peningkatan perasaan bahagia yang berlebih dan menjadi sangat positif.

Namun, rasa bahagia yang dirasakan dan ditunjukkan dalam kondisi yang tidak wajar atau berlebihan dibandingkan rasa bahagia biasanya. Itulah kenapa euforia disebut salah satu gejala dari berbagai gangguan kesehatan mental.

Mengenal Gejala Euforia

Secara umum, arti euforia menggambarkan perasaan yang sangat bahagia yang dialami seseorang karena kondisi tertentu. Seperti tercapainya impian yang diinginkan atau meraih prestasi baru. 

Euforia juga bisa digambarkan sebagai kegembiraan yang berlebihan, luar biasa, melewati batas kewajaran, bahkan tidak punya alasan yang berdasar. 

Euforia bisa saja terjadi akibat penyalahgunaan zat narkotika atau obat terlarang, atau memang bagian dari gangguan kesehatan mental.

Euforia memiliki gejala yang bisa diamati, seperti merasa bahagia yang luar biasa, sangat gembira, riang berlebihan, merasa sejahtera, puas, percaya diri, merasa aman, hingga terbebas dari stres.

Jika euforia yang dialami berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, biasanya gejala juga diikuti oleh beberapa hal berikut:

  • Kebingungan
  • Mengalami halusinasi
  • Disorientasi
  • Mengalami paranoid
  • Mengalami kegelisahan
  • Adanya perubahan suasana hati

Penyebab Seseorang Mengalami Euforia

Munculnya euforia ini disebabkan oleh berbagai kondisi. Bisa karena adanya kepuasan seksual, mencapai prestasi yang diinginkan, mengalami peristiwa kehidupan yang membahagiakan, terwujudnya mimpi, hingga mendapatkan apa yang diinginkan dan didambakan. Bahkan, kondisi hati yang tengah jatuh cinta juga memicu euforia.

Ternyata, euforia juga bisa terjadi karena olahraga. Hal ini karena tubuh menghabiskan simpanan glikogen maka akan melepaskan hormon endorfin. Itulah yang menyebabkan terjadinya euforia. Akan tetapi ada pula euforia yang disebabkan karena pilihan gaya hidup atau kondisi mental yang terganggu.

  1. Skizofrenia

Euforia bisa terjadi karena gangguan skizofrenia. Apalagi jika pasien mengalami delusi dan halusinasi yang menggembirakan.

  1. Fase Manik

Euforia juga bisa disebabkan karena gangguan mental bipolar atau pun siklotimia yang bisa menyebabkan fase manik. Fase manik ini adalah kondisi saat seseorang mengalami euforia yang berlebihan dan diikuti juga oleh depresi mendalam.

Fase manik disebut juga mania, merupakan kondisi yang membuat seseorang mengalami euforia tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan euforia yang dialami bisa membahayakan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penderita yang berada di fase manik ini akan melakukan hal-hal seperti:

  • Tidak makan
  • Tidak tidur
  • Berisiko Lebih besar mengalami delusi, halusinasi, maupun gangguan persepsi lain
  • Melakukan hal-hal yang berisiko tinggi menyebabkan kerugian pada diri sendiri
  1. Penggunaan Zat-zat Terlarang

Euforia juga dapat disebabkan karena penggunaan zat-zat terlarang atau narkoba seperti ekstasi, ganja, heroin, dan sejenisnya. Orang yang memakai narkoba biasanya memicu munculnya perasaan euforia pada penggunanya.

  1. Hipoksia

Hipoksia atau kekurangan oksigen juga bisa menyebabkan seseorang mengalami euforia. Biasanya dialami oleh orang-orang yang mendaki gunung atau dataran tinggi secara cepat. 

  1. Gangguan Otak

Orang yang mengalami gangguan otak atau cedera di kepala biasanya mengalami euforia yang tidak biasa. Bisa disebabkan karena tumor atau cedera kepala yang bisa mengubah produksi neurotransmitter di otak. 

Dengan mengetahui arti euforia tersebut, Anda bisa segera tahu saat mengalaminya. Bila euforia yang dialami tanpa alasan dan kerap terjadi, sebaiknya kunjungi ahli kejiwaan atau psikiater. Apalagi jika hal tersebut sudah memengaruhi hal esensial bagi tubuh dan juga keselamatan Anda.

Sering Bingung, Apa Perbedaan Psikiater dengan Psikolog?

Sering Bingung, Apa Perbedaan Psikiater dengan Psikolog?

Apakah Anda sering bingung membedakan psikolog dengan psikiater? Apakah persamaan dan perbedaannya? Tenang, ternyata banyak orang yang hingga kini masih bingung harus menemui siapa ketika mengalami gangguan kesehatan mental.

Meskipun psikolog dan psikiater ini sama-sama membantu mengatasi masalah kesehatan mental, namun ada banyak sekali perbedaan di antara keduanya. Apa saja?

Perbedaan Psikiater dan Psikolog

Perbedaan keduanya bisa dilihat dari beberapa hal berikut ini, yaitu:

  1. Pendidikan

Psikiater merupakan seorang dokter medis lulusan kedokteran dengan beberapa tahun magang medis, serta beberapa tahun residensi dalam hal penilaian dan pengobatan gangguan kondisi kesehatan mental. 

Sedangkan psikolog merupakan seseorang yang memiliki gelar doktor untuk bidang psikologi. Sehingga psikolog bukanlah seorang dokter seperti psikiater. Tidak seperti psikiater, psikolog tidak bisa meresepkan obat untuk pasien.

  1. Pendekatan

Kedua profesi ini sama-sama dilatih psikoterapi, yaitu berbicara dengan pasien yang memiliki masalah gangguan kesehatan mental. Namun, pendekatan yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut tentu saja berbeda. 

Psikolog biasanya akan melakukan pendekatan dengan melihat perilaku pasien dari dekat. Misalnya saat menangani pasien yang mengalami depresi dan tidak dapat bangun dari tempat tidur. Biasanya psikolog akan melihat pola tidurnya, pola makan, hingga pikiran-pikiran negatif yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Sedangkan psikiater biasanya memiliki insting neurokimia dan biologi yang lebih kuat. Untuk kasus depresi yang sama, misalnya, psikiater akan memastikan apakah pasien mengalami masalah tiroid atau pasien kekurangan vitamin. 

Persamaan Psikiater dan Psikolog

Kesamaannya, baik psikiater maupun psikolog, keduanya merupakan praktisi kesehatan yang bertugas untuk membantu menangani masalah kesehatan mental seseorang. Keduanya bisa untuk membicarakan masalah yang dihadapi pasien. Mereka juga bertugas untuk memfasilitasi pasien dalam mengelola masalah kesehatan mental yang dialami.

Kapan Harus ke Psikiater atau Psikolog?

Ketika Anda mengalami gangguan kesehatan mental yang cukup serius seperti gangguan bipolar, depresi berat, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan stres pascatrauma, hingga masalah kesehatan mental yang membuat Anda sulit fokus, maka disarankan menemui psikiater. Sebab, kondisi-kondisi tersebut perlu diresepkan obat oleh psikiater. 

Obat yang biasa diresepkan psikiater adalah obat penenang, antidepresan, obat antipsikotik, hingga obat penstabil suasana hati. Selain meresepkan obat, psikiater juga menggunakan beberapa terapi untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang dihadapi oleh pasien, seperti electroconvulsive therapy atau pun terapi cahaya.

Karena psikiater dokter, mereka juga biasanya lebih mudah untuk berkolaborasi dengan dokter spesialis atau dokter perawatan primer lainnya. Namun, ketika masalah kesehatan mental yang tidak terlalu parah, biasanya siapa yang ditemui hanyalah soal pilihan pribadi saja. Jika psikiater mengandalkan obat untuk mengatasi masalah, maka psikolog akan melakukannya dengan pendekatan secara emosional.

Pemilihan apakah akan menemui psikiater atau psikolog sebaiknya juga berdasarkan jenis masalah yang dihadapi. Misalnya, jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami depresi klinis, tentu sebaiknya bertemu psikiater karena gangguan yang dialami bisa diatasi dengan obat. Akan tetapi bila pasien mengalami gangguan mental berupa fobia, maka akan lebih efektif jika menemui psikolog.

Psikolog biasanya akan mengedepankan terapi bicara untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh pasien. Akan tetapi, jika pasien yang mereka rawat sudah memiliki gejala yang parah, biasanya psikolog akan menyarankan pasien untuk berkonsultasi dengan psikiater agar mendapat diagnosis yang lebih jelas sekaligus bisa diberikan obat.

Meski berbeda, psikiater dan psikolog sejatinya bisa saling bekerja sama dalam mengatasi permasalahan gangguan mental yang dialami oleh pasien. Misalnya dengan berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu untuk mendapatkan penanganan dari segi perilaku dan pola pikir. Secara paralel, pasien juga bisa memeriksakan diri ke psikiater untuk meminta pengobatan medis.

4 Manfaat TAT berserta Batasan Usianya

Thematic Apperception Test atau TAT merupakan salah satu jenis tes proyeksi dengan menjelaskan gambar ambigu. Menjadi metode yang populer dan dikenal sebagai teknik interpretasi gambar, hingga kini manfaat TAT membuat tes ini menjadi salah satu tes untuk menguji kepribadian yang paling banyak dipakai secara klinis.

Digagas oleh dua psikolog asal Amerika Serikat, Henry A. Murray dan Christina D.Morgan pada tahun 1930-an, tes proyeksi ini bisa dibilang sama seperti uji psikologis pada umumnya. Karena keberadaannya juga sempat menuai kontroversi, terutama terkait dengan metode penilaian yang tidak seragam.

Manfaat TAT

Tes ini didasarkan pada kebutuhan Murray yang melihat bahwa perilaku manusia muncul karena didorong oleh motivasi internal dan eksternal. Sementara lingkungan dipandang sebagai press atau tekanan yang memengaruhi dorongan tersebut. Kedua hal ini akan membentuk interaksi antara kebutuhan dan lingkungan yang disebut tema, berikut beberapa manfaat dari tes ini.

  • TAT bermanfaat dalam mempelajari secara keseluruhan kepribadian seseorang, hal ini bisa digunakan untuk menginterpretasi tingkah laku abnormal, penyakit psikosomatis dan neurose.
  • Tes ini bisa ditgunakan untuk anak dengan usia minimal 4 tahun jika memungkinkan, karena terdapat perangkat pelengkap TAT khsusu untuk anak-anak yakni CAT.
  • TAT memiliki manfaat khusus, yakni sebagai pendahuluan interview terapi yang merupakan langkah pertama dalam psikoanalisa.

Thematic Apperception Test dilakukan dengan menunjukkan beberapa kartu bergambar dengan karakter ambigu. Memiliki bentuk bisa berupa sosok perempuan, laki-laki, anak-anak, aktivitas tertentu dan juga situasi. Manfaat lebih jauh dari tes ini bisa digunakan terhadap beberapa kondisi seperti berikut ini.

  • Mengenal Personal Lebih Jauh

Tes TAT bisa digunakan sebagai ice breaker ketika menjalankan ses konseling, sehingga subjek atau personal bisa merasa lebih rileks dan leluasa dalam bercerita. Kondisi ini juga bisa membuat terapis mengetahui konflik emosional yang mungkin dimiliki sang klien.

  • Bantu Ungkap Perasaan

Tes ini kerap digunakan sebagai alat terapi yang memudahkan klien mengungkapkan perasaan mereka secara tidak langsung. Kemungkinan subjek dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan secara gamblang, meskipun dalam sudut pandang terapis mampu mengidentifikasi emosi.

  • Gali Pengalaman Hidup

Personal yang tengah menghadapi masalah seperti kehilangan pekerjaan, perceraian atau terminal ilnees dapat menginterpretasikan gambar dalam kartu dengan konteks apa yang tengah dialami. Terapis bisa menggunakan cara ini melakukan eksplorasi lebih jauh sepanjang konseling dilakukan.

  • Memeriksa Kondisi Psikologis

Terkadang tes TAT juga bisa digunakan sebagai metode dalam menilai kepribadian atau pola pikir seseorang, misalnya untuk mencari apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah psikologis atau tidak.

  • Evaluasi Terduga Tindak Kriminal

Selain digunakan untuk uji klinis, tes TAT bisa dipakai untuk menilai risiko seseorang mengulangi tindakan kriminal yang pernah dilakukan. Bisa juga mencocokan apakah personal seseorang itu cocok dengan terduga pelaku tindak kriminal tertentu, pada umumnya dipakai dalam psikologi forensik.

  • Tes Perekrutan Karyawan

Tes ini sering kali digunakan dalam proses perekrutan karyawan, terutama dalam menilai kepribadian pelamar kerja. Namun lebih khusus dipakai jika jabatan pekerjaan lebih rentan berhadapan dengan stres dan situasi serba tak pasti.

Batasan Usia

Untuk anak laki-laki dan perempuan pada usia 4 sampai 14 tahun, sementara untuk prria dan wanita berusia 14 tahun ke atas. Meskipun manfaat TAT bisa digunakan untuk anak usia 4-14 tahun, namun untuk anak usia 3-10 tahun lebih baik disarankan menggunakan CAT, sementara untuk usia 10 tahun ke atas menggunakan TAT.

6 Fakta Menarik soal Fear of Abandonment

Tidak satu orang pun di dunia yang bahagia ketika mengalami kehilangan. Rasa sedih dan kecewa pasti terjadi ketika Anda harus berhadapan dengan kehilangan orang yang Anda sayangi. Namun, beberapa orang menanggapi kesedihan tersebut dengan perilaku yang ekstrem, yang dikenal dengan istilah fear abandonment.

Fear of abandonment merupakan ketakutan luar biasa yang ditunjukkan seseorang kepada isu kehilangan orang yang disayanginya. Umumnya, ketakutan yang melebihi normal ini terbentuk dari trauma masa lalu. Ketakutan tersebut menjadi tidak wajar karena orang yang terkena fear of abandonment akan mengaplikasikan ketakutannya ke dalam bentuk rasa tidak percaya kepada orang lain sampai berusaha mencelakakan diri sendiri jika situasi tidak berjalan sesuai keinginannya.

Masalah perilaku ini pun sudah lama dilirik sebagai penelitian kejiwaan. Banyak fakta akhirnya ditemukan mengenai fear pf abandonment ini. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang rasa takut kehilangan yang luar biasa tersebut.

  1. Bukan Masalah Psikologis

Perilaku ekstrem yang ditunjukkan oleh orang yang mengalami fear of abandonment dinyatakan bukan bagian dari masalah psikologis. Ketakutan kehilangan yang luar biasa ini hanya bentuk penyimpangan perilaku akibat trauma akan ketakutan yang pernah dialami sebelumnya.

  • Dipicu Perilaku Lain

Orang-orang yang mengalami fear of abandonment umumnya terpicu oleh masalah perilaku lainnya yang sudah terlebih dahulu ada. Avoidant personality disorderdanborderline personality disorder yang merupakan perilaku yang mengarah pada penarikan diri dari lingkungan sosial kerpa menjadi pemicu ketakutan kehilangan yang luar biasa.

  • Dimulai dari Balita

Usia anak-anak menjadi penentuan seseorang terkena fear of abandonment atau tidak. Pasalnya, kebanyakan gejala ketakutan luar biasa ini dimulai ketika usia seseorang masih 3 tahun alias balita. Banyak yang bisa memulihkan kondisinya sendiri secara natural, namun banyak pula yang masih menyimpan ketakutan luar biasa tersebut hingga dewasa. Orang-orang yang tidak mampu menanggalkan ketakutannnya hingga dewasa inilah yang akhirnya membentuk masalah perilaku yang cukup serius.

  • Bukan Hanya Kematian

Kehilangan yang amat ditakuti oleh orang-orang dengan fear of abandonment tidak hanya menyangkut soal kematian orang yang disayangi. Rasa takut yang luar biasa juga mengarah pada takut akan ditinggal pergi oleh orang-orang yang disayanginya tersebut. Bukan hanya soal fisik, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang mengidap fear of abandonment juga menyangkut pelepasan secara emosional.

  • Berpengaruh ke Percintaan

Orang-orang dengan fear of abandonment cenderung memiliki hubungan percintaan yang tidak mulus. Rasa takut kehilangan yang berlebihan membuat orang dengan fear of abandonment berupaya terus menyenangkan pasangannya, walaupun terkadang menyakiti dirinya sendiri. Di sisi lain, tidak jarang orang-orang dengan rasa takut yang berlebih ini berubah menjadi sosok yang posesif guna menjaga pasangannya tetap berada di sisinya alias tidak pernah meninggalkannya. Faktanya upaya penjagaan yang berlebihan tersebut tak jarang membuat hubungan justru berakhir buruk.

  • Terapi Pasangan

Bisakah fear of abandonment dihilangan dari perilaku seseorang? Jawabannya jelas, bisa. Orang dengan ketakutan luar biasa ini bisa memutuskan untuk melakukan terapi dengan tenaga ahli kejiwaan untuk secara perlahan menghilangkan ketakutannya secara sedikit demi sedikit. Selain itu, ada sebuah fakta yang menarik bahwa terapi pasangan terhadap orang yang berperilaku fear of abandonment juga ampuh menjadi penyembuh. Di mana pasangan dari orang yang memiliki ketakutan kehilangan yang luar biasa secara konsisten meyakinkan orang tersebut bahwa akan selalu ada dia di sisinya.

Bagaimanapun ketakutan mesti dihadapi. Ketika fear of abandonment mulai menyerang Anda, meyakinkan diri sendiri bahwa Anda dicintai dan kehidupan memang memiliki siklus akhir kematian merupakan stimulasi yang baiknya terus Anda gaungkan dalam diri.