Malang Optimalkan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakti Di Malang

Kota Malang sebagai kota yang memperhatikan pelayanan kesehatan masyarakatnya, hal itu Wali Kota Malang, Sutiaji, menuntut seluruh rumah sakit di Malang dan puskesmas di Malang mengoptimalkan seluruh pelayanan kesehatan. Termasuk memberlakukan layanan berbasis digital sebagai bagian dari transparansi pelayanan.

“Saya ingin semua sarana dan fasilitas yang dimiliki masing-masing rumah sakit dan puskesmas dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Seperti ketersediaan kamar serta dokter yang harus diperbarui setiap saat, agar masyarakat dapat terlayani dengan baik,” katanya, Rabu, 30 Oktober 2019.

Sutiaji mengingatkan seluruh Direktur Rumah Sakit dan Kepala Puskesmas di Kota Malang untuk meminimalisasi keluhan masyarakat terkait pelayanan. Seperti, peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang kerap ditolak dengan alasan kamar penuh.

Senada, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Supranoto, mengatakan setiap puskesmas dan rumah sakit harus memahami betul Sistem Rujukan dan Sosialisasi Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2019 tentang Klarifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Guna meningkatkan sinkronisasi sistem rujukan dari puskesmas ke rumah sakit dalam peningkatan pelayanan.

Selain itu, Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris menyatakan apresiasi terhadap komitmen Pemerintah Kota Malang dalam mewujudkan layanan kesehatan yang berkualitas. Saat ini, seluruh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Malang telah menerapkan sistem antrean pelayanan berbasis digital yang terintegrasi dengan aplikasi Mobile JKN. 

Mengunjungi Puskesmas Kedung Kandang, Malang pada Rabu (11/03/2020), Fachmi mengaku terkejut mengetahui fakta pemerintah setempat telah menerapkan program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Ia lantas mendorong Sutiaji agar menginstruksikan implementasi layanan digital di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) seperti di rumah sakit dan klinik utama, untuk kemudian diintegrasikan dengan sistem aplikasi Mobile JKN. Fachmi berharap integrasi tersebut dapat mencakup seluruh lini pelayanan kesehatan di rumah sakit di Malang.

Saat ini, 95 persen FKRTL yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan di Kota Malang menggunakan sistem berbasis digital. Mereka menyediakan informasi display ketersediaan tempat tidur, dan sudah 100 persen menerapkan kemudahan administrasi pelayanan hemodialisa melalui sistem sidik jari atau finger print.

“Kota Malang bisa menjadi cikal bakal Smart City Health Care. Saat ini, baik Pemkot Malang dan BPJS Kesehatan sudah bersinergi membangun untuk kemudahan akses tersebut. Kini tinggal masyarakat untuk dapat memanfaatkannya,” kata Fachmi.

Fachmi mengutarakan agar hal serupa dilakukan seluruh pimpinan daerah di Indonesia. Tanpa ada perhatian khusus dari gubernur, wali kota maupun bupati, masyarakat era modern seperti sekarang tidak akan puas dengan pelayanan kesehatan publik yang tidak mudah dan tidak memiliki informasi terbuka.

“Kewajiban penyelenggara pelayanan publik adalah memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah perubahan zaman. Kita harus lebih adaptif dan memanfaatkan kemajuan teknologi. BPJS Kesehatan siap bersama-sama pemerintah daerah untuk mewujudkan hal tersebut,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Pemkot Malang serius mengatasi wabah melalui penanganan cepat dan tepat menerapkan kebijakan, inovasi, sinergitas, dan partisipasi masyarakat. Praktik terbaik (best practice) penanganan covid-19 kini sejalan dengan vaksinasi membuat Kota Malang menjadi panutan bagi daerah-daerah lain. “Tetap patuhi disiplin protokol kesehatan. Pandemi belum usai dan covid-19 itu sangat berbahaya. Karena itu, semua pihak agar bersama-sama mengantisipasi dan mewaspadai penularan,” tegas Wali Kota Malang Sutiaji, Senin (8/3/2021).

Selama ini Wali Kota Malang Sutiaji dan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko bersama stakeholder menerapkan konsep pentahelix dan inovasi. Berbagai kebijakan membuat perekonomian tumbuh, menekan penularan covid-19, serta meningkatkan kesembuhan.

Pemkot Malang juga menerapkan PPKM skala mikro berkelanjutan atau tidak dibatasi waktu sampai pandemi berakhir. Kendati demikian, Sutiaji menekankan pentingnya protokol kesehatan dan gerakan 6M, yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilisasi dan interaksi, serta menjaga keteraturan makan dan imun. 

Terbaru, Pemkot Malang bakal menerapkan vaksinasi drive thru. Layanan tanpa turun itu akan menjadi pilot project targetnya memvaksin 8 ribu orang per hari dari total vaksin yang diterima sebanyak 40.600 dosis di rumah sakit di Malang “Kota Malang rencana jadi pilot project vaksinator dari Kemenkes. Memang, kita siap, dan laporannya tertib, itu salah satunya. Terus, pengendaliannya (kasus covid-19) juga cukup bagus,” ujar Sutiaji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *