FDA Melarang Penggunaan Ivermectin untuk COVID-19

FDA Melarang Penggunaan Ivermectin untuk COVID-19

Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia, banyak orang telah mencari jalan pintas untuk mengatasi penyakit ini. Saat ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat telah memberikan peringatan agar masyarakat tidak menggunakan obat antiparasit Ivermectin sebagai perawatan penyakit COVID-19. FDA sangat khawatir tentang kesehatan para konsumen yang mencoba mengobati diri mereka sendiri dengan mengonsumsi produk Ivermectin yang ditujukan untuk hewan, dan menganggap bahwa obat tersebut dapat dijadikan pengganti Ivermectin pada manusia. Obat hewan tersebut dapat menyebabkan bahaya serius pada manusia. 

FDA juga menekankan bahwa masyarakat tidak boleh mengonsumsi Ivermectin dalam bentuk apapun kecuali telah mendapatkan resep dari dokter berlisensi dan mendapatkannya lewat sumber yang terpercaya. Ivermectin aslinya ditemukan pada tahun 1970an, dan pertama digunakan pada hewan untuk membunuh parasit internal dan eksternal di hewan peliharaan dan hewan ternak. Saat ini, Ivermectin juga digunakan untuk mengatasi infeksi parasit pada manusia. 

Meskipun dianggap aman digunakan pada manusia apabila sesuai resep yang diberikan, mengonsumsi obat ini dalam dosis yang dianjurkan untuk hewan peliharaan atau hewan ternak dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang parah. Menurut Missouri Poison Center, telah ada laporan yang menyatakan overdosis Ivermectin secara disengaja, yang mana dapat menyebabkan gejala serius seperti kejang-kejang, koma, dan gangguan hati dan paru-paru. Menurut FDA, peningkatan ketertarikan terhadap Ivermectin untuk merawat atau mencegah infeksi COVID-19 bermula dengan adanya pengumuman sebuah artikel penelitian. Dalam artikel tersebut, dijelaskan efek dari Ivermectin terhadap SARS-CoV-2 dalam lingkungan laboratorium. Sangat penting untuk diingat bahwa Ivermectin tidak diberikan pada manusia ataupun hewan dalam studi ini. 

Database online Institut Kesehatan Nasional (NIH) terhadap uji klinis menunjukkan 38 studi di seluruh dunia yang menggunakan Ivermectin sebagai kemungkinan perawatan untuk infeksi COVID-19. Namun, berdasarkan database tersebut, kebanyakan dari studi masih mencari peserta dan hanya beberapa saja yang berlokasi di Amerika Serikat. FDA menekankan meskipun penggunaan Ivermectin masih sedang diinvestigasi dalam lingkungan laboratorium, penelitian lanjutan dengan data yang konklusif masih dibutuhkan sebelum obat ini disetujui penggunaannya untuk merawat COVID-19. 

Mangala Narasimhan, selaku direktur Layanan Peduli Kritis di Northwell Health di New York, menyatakan bahwa beberapa uji dan studi acak terhadap penggunaan Ivermectin pada pasien yang menderita COVID-19 telah diterbitkan dan tersedia untuk mendapatkan peer-review. Akan tetapi, bukti masih bercampur. Beberapa studi klinis menunjukkan tidak adanya manfaat atau memperparah penyakit setelah penggunaan Ivermectin. Namun, ada pula beberapa studi yang melaporkan adanya pengurangan tingkat penanda peradangan serta mengurangi tingkat kematian pada pasien yang menerima Ivermectin dibandingkan dengan obat-obatan lain ataupun placebo. Akan tetapi, kebanyakan dari studi tersebut memiliki informasi yang tidak lengkap serta tidak ada batasan metodologis yang penting. Menurut Narasimha, batasan tersebut meliputi ukuran sampel yang kecil, dosis Ivermectin yang beragam, dan pasien yang menerima obat-obatan lain sebagai bentuk perawatannya. 

Meskipun menggunakan dosis obat yang ditujukan pada hewan untuk diri sendiri bukanlah sebuah hal yang aman, Ivermectin telah membantu banyak orang apabila digunakan dengan tepat sesuai dengan anjuran dan resep dokter. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa produsen Ivermectin menyadari potensi penggunaan obat ini pada manusia tahun 1980an. WHO juga menambahkan bahwa Ivermectin memiliki aplikasi kesehatan publik yang sangat berharga dalam mengontrol penyakit yang disebabkan karena strongyloidiasis dan tikus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *