Category: Penyakit

Penyebab Gangguan Pendengaran Tuna Rungu dan Cara Mengatasinya

Seseorang yang mengalami gangguan pendengaran dapat disebut tuna rungu ataupun tuli. Meski pun keduanya sama-sama populer dan sering digunakan, namun ternyata memiliki perbedaan secara penggunaan istilah. Tuna rungu dianggap lebih halus dan sopan untuk digunakan dalam tatanan sosial budaya dan dijadikan penyebutan dalam dunia medis. Sedangkan istilah tuli dianggap lebih kasar. Meski demikian, anggota komunitas Tuli lebih memilih disebut Tuli daripada tuna rungu. Mengapa demikian? Mereka beranggapan bahwa sapaan Tuli menunjukkan kelompok masyarakat yang memiliki identitas soial, bahasa ibu, dan budaya sendiri. Lalu, apa saja jenis dan penyebab gangguan pendengaran? Dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini.

Jenis dan penyebab gangguan pendengaran

Tuna rungu memiliki beberapa jenis yang dibedakan dari segi medis. Ketiganya berbeda dari segi penyebab. Penting untuk mengetahui dengan jelas penyebab tuna rungu pada seseorang sehingga dapat dilakukan penanganan yang tepat.

  • Gangguan pendengaran sensorineural (SNHL)

Gangguan pendengaran sensorineural(SNHL) menjadi penyebab 90% tuna rungu pada orang dewasa. Gangguan SNHL terjadi karena struktur bagian dalam mengalami kerusakan. Selain itu, SNHL juga bisa terjadi karena kerusakan syaraf pendengaran.

  • Gangguan pendengaran konduktif

Gangguan pendengaran konduktif adalah salah satu yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tuna rungu. Penyebabnya yaitu adanya masalah pada gendang telinga, osikel, atau saluran telinga. Gangguan ini menyebabkan suara tidak dapat masuk pada telinga bagian dalam.

  • Gangguan pendengaran campuran

Gangguan pendengaran campuran tergolong paling rumit ditangani dibandingkan yang lainnya. Hal itu dikarenakan gangguan pendengaran campuran merupakan kombinasi gangguan SNHL dan gangguan kognitif. Kemampuan mendengar orang yang mengalami hal ini akan sangat buruk.

Cara mengatasi gangguan pendengaran

Terdapat beberapa cara untuk mengatasi gangguan pendengaran yang dialami oleh seseorang. Tuna rungu pada setiap orang bisa berbeda-beda sehingga penanganannya pun akan disesuaikan. Berikut ini merupakan 3 cara mengatasi gangguan pendengaran yang sering digunakan.

  • Pemberian obat-obatan

Pemberian obat khusus dapat membantu mengatasi tuna rungu pada seseorang. Obat yang diberikan akan disesuaikan. Untuk penyakit Meniere, kombinasi obat tertentu akan diberikan beserta saran untuk melakukan diet rendah sodium dan natrium. Jika mengalami infeksi telinga kronis, Anda mungkin terbantu dengan obat antijamu dan antibiotik. Virus juga dapat membuat tuna rungu secara mendadak sehingga seringkali ditangani menggunakan obat kortikosteroid.

  • Pemakaian alat bantu dengar

Cara lain untuk mengatasi tuna rungu yaitu dengan memakai alat bantu dengar. Jenis alat bantu dengar bermacam-macam seperti jenis konvensional, alat bantu dengar dengan konduksi tulang, dan alat bantu dengan dengan implan koklea. Pemilihan alat bantu dengar akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan.

  • Operasi atau pembedahan

Selain obat dan alat bantu, operasi juga termasuk cara untuk mengatasi gangguan pendengaran. Tindakan pembedahan dilakukan jika berbagai obat tidak dapat mengatasi gangguan pendengaran yang dialami oleh seseorang. Beberapa jenis tuna rungu yang diatasi dengan operasi yaitu karena tumor jinak, trauma kepala penyebab kompartemen telinga pecah, serta tidak adanya saluran telinga tengah.  

Untuk dapat berkomunikasi dengan para tuna rungu, Anda dapat menggunakan bahasa isyarat. Sama seperti bahasa verbal, bahasa isyarat pun memiliki ragam jenis sesuai dengan daerah masing-masing. Komunitas Tuli di Indonesia menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sebagai bahasa utama. Untuk tuna rungu di Inggris, mereka menggunakan British Sign Language (BSL). Sedangkan di Amerika, terdapat Sign Language (ASL) yang digunakan tuna rungu Amerika Serikat. Semua bahasa isyarat tersebut dapat Anda pelajari, meski Anda bukan seorang tuna rungu.

Altitude Sickness

Altitude sickness merupakan gejala yang dialami penderita dimana mereka mendaki di tempat yang tinggi dengan terlalu cepat. Kondisi tersebut juga bisa dialami ketika penderita merasa tidak tahan di ketinggian tertentu.

Orang-orang bisa mengalami altitude sickness ketika mereka berada di ketinggian lebih dari 250 meter. Semakin cepat seseorang berada di ketinggian tertentu, semakin besar risiko gejala yang akan dialami.

Pada umumnya, altitude sickness dipengaruhi oleh kondisi tubuh seseorang dan medan pendakian yang dilewati. Jika medan yang dilewati seseorang tinggi, mereka akan membutuhkan energi lebih banyak untuk melewati permukaan tersebut.

Gejala

Altitude sickness juga dapat menimbulkan berbagai gejala, namun berbeda-beda bagi setiap orang. Gejala-gejala yang dialami penderita ditentukan oleh derajat beratnya medan yang dilewati. Berikut adalah informasi secara spesifik tentang derajat berat medan:

  1. Derajat ringan

Seseorang yang melewati derajat ringan bisa merasa lelah, pusing, sesak nafas, nafsu makan berkurang, badan tidak enak, dan kesulitan untuk tidur. Gejala-gejala tersebut bisa terjadi dalam 12 hingga 24 jam setelah seseorang mendaki di medan tersebut. Gejalanya juga akan berkurang dalam waktu yang sama karena tubuh mereka sudah semakin terbiasa terhadap hal tersebut.

  • Derajat sedang

Pada dasarnya, seseorang yang melewati derajat sedang akan mengalami gejala yang sama seperti derajat ringan. Namun, gejala yang dialami akan semakin memburuk. Hal tersebut juga akan membuat penderita kehilangan kondisi tubuh dan merasa sulit untuk berjalan. Proses pemulihan akibat gejala yang dialami bisa membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan derajat ringan.

  • Derajat berat

Seseorang yang melewati derajat berat akan mengalami gejala yang parah sehingga membutuhkan perawatan secepatnya. Gejala-gejala yang bisa dialami penderita adalah tubuh terasa sesak, tidak bisa berjalan, merasa bingung, batuk, kulit memucat, dan adanya cairan pada bagian paru dan otak.

Penyebab

Seseorang yang mengalami altitude sickness dipengaruhi oleh kondisi tubuh. Sebagian orang mungkin merasa kuat untuk mendaki, namun sebagian orang merasa lemah untuk melakukan hal tersebut.

Selain itu, mendaki terlalu cepat di suatu ketinggian dapat mempengaruhi kondisi mereka, apakah kondisinya akan memburuk atau tidak. Tubuh manusia membutuhkan waktu satu hingga tiga hari untuk beradaptasi di ketinggian tertentu.

Selain kondisi tubuh manusia dan kecepatan mendaki, altitude sickness juga dipengaruhi oleh aktivitas yang terlalu berat dalam waktu 24 jam pendakian, hipotermia, kurangnya asupan cairan pada tubuh, dan mengkonsumsi alkohol atau zat sedatif.

Diagnosis

Jika Anda mengalami altitude sickness, Anda perlu periksa diri ke dokter. Dokter akan melakukan diagnosis terhadap kondisi Anda dengan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi pemeriksaan dada (jika terdapat cairan di bagian paru) dan tanda-tanda vital.

Pengobatan

Untuk mengobati altitude sickness, Anda sebaiknya beristirahat sampai kondisi Anda pulih. Namun, jika kondisi yang Anda alami tergolong ringan seperti merasa lelah, Anda bisa melanjutkan pendakiannya, namun Anda perlu mendaki lebih pelan.

Selain itu, Anda juga sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi air putih dan membawa obat untuk membantu menjaga kondisi tubuh. Anda sebaiknya tidak melakukan kebiasaan buruk dengan merokok, mengkonsumsi alkohol, atau mengkonsumsi zat sedatif.

Kesimpulan


Altitude sickness merupakan gangguan yang perlu diwaspadai, karena gangguan tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, baik ringan maupun berat. Oleh karena itu, jika Anda ingin melakukan pendakian, pastikan Anda menjaga kondisi Anda dan bawa perlengkapan sesuai kebutuhan, terutama yang dapat membantu mengobati gejala yang bisa Anda alami.

Waspadai Dermatomiositis, Penyakit Inflamasi Langka yang Dapat Menyerang Siapa Saja

Anda mungkin pernah mengalami ruam pada area tertentu di kulit atau pernah melihat seseorang yang mengalami hal serupa. Ruam kulit dapat menjadi tanda adanya penyakit tertentu, seperti penyakit inflamasi langka, dermatomiositis.

Dermatomiositis dapat terjadi pada siapa saja, baik itu orang dewasa, wanita atau pria, hingga anak-anak.Umumnya kelompok usia dengan rentang antara 40-60 tahun rawan terserang dermatomiositis. Sementara itu, dermatomiositis biasanya menyerang anak-anak yang berusia 5-15 tahun.

Seperti apa gejala dan tanda dermatomiositis?

Gejala utama dari penyakit inflamasi ini adalah ruam pada kulit yang berwarna merah atau ungu pada area sekitar wajah, seperti kelopak mata, hidung, dan pipi. Tidak jarang, ruam ini juga dapat muncul di bagian dada atas, siku, lutut, dan buku-buku jari. Ruam ini biasanya disertai dengan rasa gatal atau menyakitkan. Selain itu, mungkin juga akan muncul benjolan keras di bawah kulit yang disebut dengan kalsinosis.

Kondisi di bawah ini juga perlu Anda waspadai sebagai gejala dermatomiositis:

  • mengalami kesulitan ketika menelan makanan
  • rentan mengalami kelelahan
  • rasa kaku dan nyeri pada otot
  • demam
  • penurunan berat badan tanpa direncanakan

Ada pun penyebab dari dermatomiositis hingga saat ini belum ditemukan. Namun, penyakit ini seringkali dikaitkan dengan penyakit autoimun yang menyebabkan sel-sel antibodi malah berbalik menyerang sel-sel tubuh yang sehat. Dalam kasus dermatomiositis, jaringan otot pada pembuluh darah kecil diserang oleh sel-sel inflamasi tubuh, sehingga menyebabkan pembuluh darah dan jaringan-jaringan otot rusak.

Pengobatan yang ditujukan untuk mengatasi dermatomiositis hanya terbatas pada mengobati gejala yang timbul. Beberapa cara yang umumnya diberikan pada pasien dermatomiositis:

  • kortikosteroid: jenis obat yang berfungsi mengontrol gejala yang timbul secara tepat. Penggunaan obat ini membutuhkan perhatian khusus, terutama untuk pemakaian jangka panjang, karena berisiko menimbulkan efek samping.
  • Obat pendukung kortikosteroid: digunakan secara berdampingan dengan obat utama kortikosteroid untuk menurunkan dosis dan efek samping.
  • Obat imunosupresan.
  • Obat rheumatoid arthritis.

Sementara itu, cara untuk mengatasi masalah otot yang ditimbulkan akibat terkena dermatomiositis, antara lain:

  • Terapi panas
  • Olahraga
  • Orthotics
  • Alat untuk membantu berdiri tegak
  • Pengobatan imunoglobulin intravena (IVIg)

Trigger Finger

Trigger finger adalah inflamasi pada tendon atau jaringan pengikat tulang dan otot dimana masalah tersebut dapat menyebabkan rasa nyeri ketika salah satu atau beberapa jari ditekuk. Rasa nyeri di jari juga menjadi kaku pada posisi tertentu sehingga tidak bisa digerakkan.

Trigger finger juga dikenal sebagai stenosing tenosynovitis atau stenosing tenovaginosis. Kondisi tersebut dapat terjadi pada satu atau beberapa jari, baik di salah satu tangan maupun keduanya.

Selain itu, jari pelatuk pada umumnya dialami oleh jari tangan kanan, dan jari yang paling sering terkena trigger finger adalah ibu jari, jari manis, dan kelingking.

Gejala Trigger Finger

Orang-orang yang terkena trigger finger akan mengalami gejala sebagai berikut:

  • Jari terasa kaku.
  • Terdengar bunyi ‘klik’ ketika jari digerakkan.
  • Jari terasa nyeri ketika disentuh.
  • Terdapat benjolan pada pangkal jari.
  • Jari membengkok dan tidak bisa diluruskan.

Gejala yang dialami seseorang bisa ringan atau berat. Masalah tersebut juga bisa berkembang sehingga kondisinya terlihat parah.

Penyebab Trigger Finger

Orang-orang yang mengalami trigger finger umumnya disebabkan oleh peradangan pada tendon jari atau lapisan pelindung tendon. Masalah tersebut dapat membuat jari seseorang bengkak.

Pembengkakan yang dialami akan mengurangi ruang gerak tendon dalam lapisan pelindung tendon. Ketika mengeluarkan bunyi ‘klik,’ jari mengalami pembengkokan sehingga sulit untuk diatur kembali ke posisi semula.

Selain itu, pembengkokan pada jari dapat membuat seseorang mengalami rasa nyeri akibat benjolan yang ada pada bagian jari tersebut.

Selain pembengkakan, trigger finger juga disebabkan oleh faktor berikut:

  • Jenis kelamin

Wanita lebih sering mengalami trigger finger dibandingkan dengan pria.

  • Usia

Orang-orang yang berusia lebih dari 40 tahun lebih sering mengalami trigger finger.

  • Kondisi medis

Kondisi medis seperti diabetes juga dapat memicu terjadinya trigger finger.

  • Operasi

Trigger finger juga bisa disebabkan oleh operasi untuk mengatasi carpal tunnel syndrome.

Diagnosis

Jika Anda mengalami trigger finger, Anda perlu periksa jari Anda ke dokter. Dokter akan melakukan diagnosis yang meliputi pemeriksaan fisik. Selain itu, dokter memerlukan informasi terkait dengan kondisi yang Anda alami sehingga dapat memicu trigger finger.

Setelah itu, dokter akan meminta Anda untuk menggerakan jari Anda. Dokter kemudian akan memeriksa kondisi pada jari tersebut, untuk mengetahui seberapa parah pembengkakan tersebut dan jika terdapat benjolan pada jari Anda.

Cara Mengobati Trigger Finger

Cara mengobati trigger finger bergantung pada seberapa parah kondisi yang dialami pasien. Berikut adalah beberapa cara untuk mengobati trigger finger:

  • Mengistirahatkan jari

Dokter akan menyarankan Anda untuk tidak menggerakkan jari selama beberapa waktu.

  • Menggunakan obat

Dokter bisa meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen atau naproxen.

  • Memasang bidai

Anda juga dapat menggunakan bidai atau splint untuk membantu memulihkan jari Anda.

  • Melatih peregangan jari

Dokter juga dapat membantu Anda untuk melatih peregangan jari untuk mencegah kekakuan pada jari tersebut.

  • Menjalani operasi

Trigger finger juga dapat diatasi dengan operasi, namun bergantung pada rasa nyeri yang terjadi dan berkurangnya fungsi jari. Dokter akan membuat sayatan kecil di dekat pangkal jari, kemudian membuka lapisan pelindung tendon untuk membantu meredakan jari tersebut.

Pencegahan Trigger Finger

Untuk mencegah trigger finger, Anda sebaiknya jangan terlalu banyak mencengkram jari Anda supaya jari Anda tidak menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan.

Persiapan Terkait Dengan Trigger Finger

Anda dapat berkonsultasi dengan dokter jika Anda terkena trigger finger. Sebelum berkonsultasi, Anda sebaiknya mempersiapkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Membuat daftar gejala yang Anda alami.
  • Mencatat riwayat medis yang pernah Anda alami.
  • Mencatat obat yang pernah Anda konsumsi.
  • Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Bila perlu, minta teman atau keluarga untuk mendampingi Anda untuk membantu mengingat masalah tersebut.

Ini Penyebab Terjadinya Candidiasis Vaginalis

Penyakit yang cukup mengganggu kenyamanan seseorang dan terkait dengan kesehatan orga reproduksi wanita adalah candidiasis vaginalis. Kondisi ini bisasnya terjadi ketika seseorang sedang terinfeksi jamur candida dari hubungan seksual. Ciri-ciri utama ketika seseorang mengalami candidiasis vaginalis adalah merasakan nyeri dan terasa gatal yang luar biasa area vagina.

Selain itu, bisa juga terjadi peradangan yang membuat area vagina berwarna kemerahan. Penderita candidiasis vaginalis juga akan mengeluarkan cairan berwarna pekat dalam jumlah yang banyak. Sebenarnya wajar saja jika vagina mengeluarkan cairan untuk menjaga kelembapan pH, namun pada kasus candidiasis vaginalis, biasanya jumlah cairannya sangat banyak.

Penyebab terjadinya candidiasis vaginalis

Menarik untuk Anda ketahu bagaimana candidiasis vaginalis bisa terjadi termasuk faktor risikonya. Seperti yang kita tahu bahwa penyebab candidiasis vaginalis adalah jamur Candida. Umumnya, jamur Candida dan bakteri Lactobacillus memang ada dalam vagina dalam kondisi seimbang.

Namun jika seseorang terkena candidiasis vaginalis, keseimbangan bakteri akan tertanggu sehingga jamur Candida lebih dominan. Pertumbuhan jamur yang abnormal ini juga bisa terjadi karena beberapa hal seperti berikut:

  • Saat masa kehamilan karena hormon tidak stabil
  • Diabetes tidak terkontrol
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh (HIV-AIDS)
  • Konsumsi antibiotik yang bisa menguranig jumlah bakteri Lactobacillus
  • Berubahnya Ph vagina
  • Kontrasepsi oral atau terapi hormon yang meningkatkan kadar estrogen
  • Penggunaan sabun pembersih vagina

Cara mencegah candidiasis vaginalis

Selain memastikan selalu berhubungan seksual dengan aman, sebaiknya Anda juga menghindari penggunaan sabun pembersih vagina yang dapat merusak pH alami vagina. Cara lain untuk mencegah candidiasis vaginalis adalah dengan:

  • Menghindari berendam atau mandi di air sangat panas karena bisa membunuh mikroorganisme di vagina
  • Ganti pakaian yang basah setelah renang atau berolahraga
  • Basuh vagina dari depan ke belakan agar bakter dari anus tidak mengenai vagina
  • Ganti pembalut dengan rutin saat menstruasi atau beralis ke menstrual cup
  • Hindari mengenakan celana dalam yang terlalu ketat
  • Konsumsi yogurt untuk menambah bakteri baik pada vagina
  • Hindari konsumsi antibiotic jika tidak benar-benar perlu
  • Memastikan kadar gula darah terkontrol bagi penderita diabetes

Selain menjalankan langkah-langkah di atas, jangan lupa untuk selalu menjaga kerbersihan area genital dan tubuh secara keseluruhan. Dalam beberapa hari, infeksi dapat disembuhkan. Namun, iritasi yang parah juga memerlukan proses penyembuhan yang lebih lama.

Cara Menghilangkan Rasa Tak Nyaman Akibat Kelainan Tulang Belakang

Kifosis adlaah kelainan tulang belakang yang bisa menyebabkan penderita menjadi membungkuk. Hal ini disebabkan tulang belakang di daerah punggung melengkung dan membuat penderitanya merasa tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini akan berlangsung terus-menerus sampai usia senja jika tidak ditangani dengan benar.

Bagaimana cara menghilangkan rasa tidak nyaman akibat kelainan tulang belakang?

Beberapa cara yang bisa mengurangi rasa tidak nyaman yang diakibatkan kelainan tulang belakang atau kifosis. Berikut ini beberapa gerakan atau terapi yang bisa dilakukan untuk melatih otot punggung:

  • Menarik lutut ke dada
  • Mengangkat panggul sambil berbaring (pelvic tilting)
  • Menggerakan lutut ke samping sambil berbaring (knee rolls)

Selain itu, jika kifosis terjadi karena gangugan postur, contohnya karena posisi duduk yang tidak benar, Anda bisa mengatasinya dengan memastikan kursi dan meja kerja Anda berada di posisi yang nyaman sehingga tubuh tetap dapat tegak ketika duduk. Anda juga perlu memerhatikan tas atau bebang yang sering Anda bawa di punggug, cegah kifosis dengan menggunakan ransel yang bisa mendistribusikan beban secara merata di punggung.

Gejala kelainan tulang belakang

Gejala yang bisa terlihat pada penderita kifosis adalah tulang punggung yang melengkung ke depan. Selain gejala tersebut, bahu penderita cenderung akan maju ke depan. Perlu diingat gejala ini biasanya tidak nampak pada kifosis yang masih ringan. Selain gejala yang nampak tersebut, dapat muncul beberapa gejala lain seperti:

  • Terasa nyeri di area punggung
  • Punggung terasa kaku
  • Otot hamstring terasa tegang
  • Baju condong ke depan

Apa yang menjadi penyebab kifosis?

Perlu diketahui bahwa struktur tulang punggung adalah sebuah struktur tulang yang memanjang ke atas layaknya susunan balok permainan Uno Stacko. Walaupun susunannya memanjang dan tegak, ternyata struktur tulang punggung ini untuk karena sifatnya yang fleksibel. Hal ini menyebabkan tubuh kita untuk bisa bergerak bebas.

Selain itu, keunikan ini juga membuat tulang belakang rentan mengalami, gangguan, salah satunya kifosis. Kifosis bisa terjadi pada saat tulang-tulang penyusun punggug (vertebra) di bagian atas tidak berbentuk sebagaimana mestinya. Bentuk yang seharusnya adalah lurus menjadi melengkung (wedge_shaped) dan membuat penderitanya cenderung membungkuk ke depan.

Perubahan posisi tersebut bisa disebabkan beberapa hal seperti postur tubuh yang buruk, gangguan pertumbuhan, usaia senja, bentuk anatomi tulang vertebra yang abnormal, dan cara duduk yang salah dalam jangka Panjang. Pastikan Anda selalu berkonsultasi ke dokter apabila merasa memiliki kifosis dan terutama jika kifosis menimbulkan nyeri yang sangat mengganggu.

Jangan Panik, Ini Cara Mengatasi Sesak Nafas yang Tiba-tiba!

Sesak nafas adalah kondisi ketika tubuh tidak mendapatkan pasokan udara yang kaya oksigen untuk masuk ke paru-paru. Hal ini bisa disebabkan dari beberapa kondisi mulai dari aktifitas yang berat, kelebihan berat bedan, serangan panik, serangan asma akut dan beberapa kondisi lainnya. Sesak napas bisa berlangsung sesaat dan bisa berlangsung lama tergantung dari kondisi yang mendasarinya.

Apa saja gejala dan penyebab sesak nafas?

Gangguan pernafasn merupakan gejala utama pada sesak nafas. Gejala lain yang bisa menyertai pada sesak nafas antara lain nafas pendek, nafas cepat dan dangkal, rasa nyeri pada saat bernafas atau sesak di dada. Selain itu, bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman seperti tercekik di daerah dada. Gejala pada sesak nafas ini bisa berlangsung singat atau lama (kronis) sesuai dengan dari penyakit yang mendasarinya.

Perlu Anda ingat bahwa kondisi sesak nafas merupakan pertanda medis dari penyakit yang mendasarinya. Biasanya, seperti sesak nafas muncul akibat adanya gangguan dari jantung dan paru-paru yang mengakibatkan peredaran oksigen ke dalam tubuh menjadi berkurang. Berikut beberapa penyebab tersering dari sesak nafas:

  • Gangguan jantung seperti kardimiopati, aritmia, gagal jantung dan pericarditis
  • Gangguan pada paru-paru seperti tunerkulosis, ederma paru, fibrosis paru, radang selaput dada, asma, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit paru interstisial, radang paru, pneumotoraks dan penyakit lainnya.
  • Anemia
  • Obesitas
  • Keracunan karbon monoksida
  • Tekanan darah rendah atau hipotensi

Hal yang harus dilakukan jika sesak nafas menyerang

Langkah pertama yang Anda harus lakukan adalah menenangkan diri. Pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah dengan merubah posisi yang bisa membuat tubuh menjadi lebih tenang dan membuka jalur pernapasan seperti duduk, berdiri dengan bersandar dan berbaring. Ketika melakukan pertolongan pertama segera hubungi atau kunjungi dokter terdekat di sekitar Anda untuk mendapatkan pertolongan medis.

Dalam mengatasi sesak nafas, Anda juga haru melakukan perubahan dalam gaya hidup. Jalanilah gaya hidup yang sehat agar kesehatan pernafasan juga tetap terjaga. Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan dalam melakukan gaya hidup sehat seperti, berhenti merokok, hindari asap rokok, hindari paparan polusi, turunkan berat badan jika Anda kelebihan berat badan, rutin berolahraga dan tidur yang cukup

Gejala dan Penyebab Sindrom Reye yang Perlu Anda Tahu!

Sindrom reye merupakan penyakit yang bisa fatal dan sangat jarang terjadi. Penyakit ini berupa pembengkakan otak dan pembengkakan hati pada anak dan remaja setelah mereka terkena penyakit flu, infeksi pernafasan atau cacar air. Terkadang penyakit ini bisa menimpa bayi dan hampir tidak terjadi pada orang dewasa. Sekitar sepertiga kasus sindrom reye ini terjadi setelah anak terkena cacar air.

Gejala sindrom reye

Gejala sindrom reye biasanya muncul beberapa hari setelah anak terkena flu atau cacar air berupa muntah yang berulang-ulang yang tidak mereda selama lebih dari 12 jam. Anak juga akan mengalami demam dan timbul gejala yang menunjukan adanya disfungsi otak seperti merasa gelisah, bingung, mudah marah, menjadi agresif, irasional dan meracau. Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis, penderita sindrom reye ini bisa mengalami kejang-kejang dan koma.

Penyebab sindrom reye

Beberapa penelitian menemukan bahwa penggunaan obat aspirin pada anak-anak terkena infeksi virus bisa memicu munculnya sindrom reye. Pada dua penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Perancis memperlihatkan adanya kaitan antara aspirin dan sindrom reye tersebut.

Berdasarkan penelitian tersebut, para dokter menyarankan untuk tidak memberikan obat aspirin kepada anak-anak yang terkena flu atau cacar air. Untuk meredakan demam dan nyeri lebih baik menggunakan obat-obatan lain seperti asetaminofen atau ibuprofen.

Diagnosis dan pengobatan sindrom reye

Diagnosis sindrom reye dilakukan berdasarkan gejala yang muncul dan hasil tes darah. Pada penderita sindrom reye, hasil dari tes darah ini akan menunjukan kadar alanine aminotransferase yang tinggi serta kadar enzim liver ALT yang tinggi.

Seorang anak yang terkena sindrom reye haru secepatnya mendapatkan perawatan medis di unit perawatan insentif di rumah sakit. Pengobatan dilakukan dengan pemberian cairan elektrolit, diuretic dan antikonvulsan. Jika cepat ditangani maka kemungkinan untuk sembuh total juga cukup tinggi. Namun jika penangannya terlambat, anak bisa jatuh koma hingga meninggal. Untuk anak-anak yang berhasil bertahan setelah mengalami sindrom reye, ada pulang kemungkinan komplikasi berupa berbagai macam kerusakan permanen pada otak