Category: kesehatan mental

Anak Suka Bicara Sendiri, Apakah Normal?

Pernahkah kamu melihat ada anak kecil atau balita yang sibuk bicara sendiri di rumah? Bila iya, tidak perlu takut dan cemas ya! Sebab, hal itu sangat normal terjadi. Hal itu karena berbicara sendiri juga merupakan bagian dari perkembangannya. 

Suka Bicara Sendiri Tidak Gila, Justru Tunjukkan Jiwa yang Sehat : Okezone  Lifestyle

Menurut ahli perkembangan, anak kerap berbicara sendiri untuk berimajinasi, mengekspresikan emosi dan fantasinya. Tidak hanya itu, bicara sendiri kerap dilakukan anak dalam rangka membimbing diri sendiri saat bermain atau ketika sedang berada di sekolah. Terkait hal ini, anak-anak yang sering bicara sendiri diketahui memiliki keterampilan bahasa ekspresif yang lebih tinggi.

Psikolog asal Rusia, Vygotsky, menemukan peran perkembangan kognitif dalam kegiatan bicara sendiri. Menurut pandangannya, bicara sendiri memungkinkan anak secara sadar mengarahkan proses berpikirnya. Periode ini merupakan transisi dari tahapan bicara sosial awal dan berbicara dalam hati menuju pada kemampuan untuk melakukan kontrol internal terhadap perilaku. Ia juga menilai kebiasaan anak bicara sendiri di awal usia sekolah.

Bukan hanya anak-anak, sebenarnya semua orang—termasuk orang dewasa, senang berbicara sendiri. Bedanya, menurut Arlene Eisenberg, penulis buku What to Expect The Toddler Years adalah, orang dewasa sudah belajar melakukannya di dalam hati, sehingga tidak ada orang lain yang mendengar.

”Berbicara sendiri itu sebenarnya adalah proses berpikir seseorang yang tercetus keluar dalam bentuk kata-kata,” kata Eisenberg.

Pada usia sekitar 2 tahun, batita baru saja belajar merumuskan pikirannya ke dalam bentuk kata-kata. Nah, upaya merumuskan ini akan terasa lebih mudah jika ia mengucapkannya dengan suara keras—persis seperti seseorang yang baru belajar membaca. Makanya, dalam tahapan ini, anak belum mampu membedakan antara proses berpikir di dalam hati dengan proses berpikir yang diungkapkan lewat kata-kata.

Kebiasaan berbicara sendiri juga terjadi karena didorong keinginan anak mempraktekkan kemampuan berbahasa yang belum lama ini baru ia kuasai. Bukan hanya itu, anak juga senang mendengar suaranya sendiri. Seiring dengan meningkatnya kemampuan berbahasa balita, ia akan semakin senang mendengarkan dirinya sendiri berbicara.

Lama-kelamaan, bersamaan dengan meningkatnya usia dan semakin terasanya kemampuan anak dalam berbicara, ia akan mulai lebih sering berpikir di dalam hati—meskipun kebiasaan berbicara sendiri masih akan terus bertahan sampai ia memasuki usia pra-sekolah atau bahkan lebih dari itu.

Sembari menanti anak memperbaiki kemampuannya berbicara di dalam hari, hindari mengkritik apalagi menghukum anak karena berbicara sendiri. Anggap saja ini adalah fase unik dalam kehidupan si kecil, yang pada suatu hari nanti akan kamu rindukan kehadirannya.

Selain itu berbicara sendiri berperan pada kemampuan regulasi diri, atau kemampuan anak untuk mengontrol perilakunya. Kebiasaan ini biasanya meningkat ketika anak mencoba menyelesaikan tugas atau problem solving yang sulit sendirian, tanpa bantuan orang dewasa. Mungkin anak yang sedang bingung mengatasi masalahnya memang harus mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, keras-keras!

Lantas, adakah hal yang harus dilakukan oleh orang tua terkait hal ini? Atau, bagaimana sebaiknya kita, sebagai orang tua, menyikapi anak yang suka bicara sendiri?

Dukung anak dengan memberikannya ruang. Bila anak suka bicara sendiri, para ahli perkembangan anak mengajurkan orang tua memberi anak banyak kesempatan untuk:

  • Melakukan permainan sendiri
  • Bermain bersama anak lain di taman bermain, atau mengundang satu atau dua orang teman main ke rumah
  • Bicara sendiri ketika bermain tanpa dikritik atau diejek
  • Membaca buku dengan kata-kata yang mengandung rima
  • Menunjuk kata pada buku cerita saat membacakannya
  • Menceritakan kembali kegiatannya seharian
  • Menceritakan urutan sebuah kejadian.

Demikian penjelasan mengenai anak suka bicara sendiri. Semoga dapat menambah wawasanmu.

Kenali Gejala dan Penyebab Linglung, Kebingungan yang Tiba-tiba

Delirium merupakan perubahan yang terjadi pada fungsi mental seseorang secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkan kebingungan dan menurunnya kesadaran alias linglung

Berbagai gejala delirium ini umumnya akan semakin parah ketika malam hari akibat lingkungan sekitar karena kurang familiar bagi penderita. Bahkan terkadang sulit untuk mendeteksi delirium dan dementia. Sehingga penderita sangat membutuhkan informasi-informasi dari orang-orang di sekitarnya.

Jenis-jenis Delirium

Linglung atau dikenal dengan istilah medis delirium terdiri dari 3 jenis, yaitu:

  1. Delirium Hiperaktif

Jenis linglung yang paling mudah dikenali adalah jenis delirium hiperaktif. Jenis ini memiliki gejala seperti mondar-mandir atau gelisah, adanya perubahan suasana hati secara cepat, agitasi, halusinasi, serta menolak untuk bekerja sama.

  1. Delirium Hipoaktif

Linglung jenis ini bisa diidentifikasi dengan sikap penderita yang tidak seaktif biasanya, lesu, berkurang aktivitas motorik, merasakan kantuk yang tidak normal, atau mengalami linglung.

  1. Delirium Campuran

Jenis lingung ini memiliki tanda dan juga gejala yang sama antara delirium jenis hipoaktif dan hiperaktif. Seseorang bisa dengan cepat beralih dari delirium hiperaktif ke hipoaktif.

Berbagai Gejala-gejala Penderita Delirium

Jika seseorang yang Anda kenal secara tiba-tiba bersikap tidak biasa atau muncul gejala-gejala yang tidak biasa, maka sebaiknya segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Sebab, orang yang mengalami delirium ini seringkali tidak merasakan apa-apa atau tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada diri mereka. 

Berikut gejala-gejala linglung yang biasanya terjadi:

  • Mengalami perubahan mood secara tiba-tiba
  • Mudah terdistraksi
  • Mengalami paranoid atau delusi
  • Tidak bisa mengikuti arah pembicaraan atau tidak berbicara dengan jelas
  • Tidak bisa melakukan sesuatu seperti biasanya secara tiba-tiba
  • Mengalami disorientasi atau kurang memahami keberadaan mereka atau waktu setempat
  • Mengalami halusinasi atau mendengar bahkan melihat sesuatu yang tidak ada
  • Mengalami perubahan mood yang tiba-tiba

Penyebab Delirium

Ada beberapa penyebab seseorang mengalami delirium, seperti:

  • Malnutrisi atau mengalami dehidrasi
  • Pengiriman dan penerimaan sinyal di otak mengalami gangguan
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu atau keracunan obat
  • Mengalami rasa sakit
  • Penyakit kronis atau terminal
  • Infeksi akut, speeti mengalami pneumonia dan lainnya
  • Terpapar racun
  • Mengalami tekanan emosi yang berat atau kurang tidur
  • Mengalami kondisi medis, seperti stroke, serangan jantung, cedera akibat jatuh, dan sebagainya
  • Efek akibat berhenti konsumsi alkohol atau narkotika
  • Mengalami ketidakseimbangan metabolik, seperti kalsium atau kadar sodium yang rendah
  • Efek operasi atau prosedur medis lain yang berhubungan dengan obat bius

Cara Mengobati Linglung

Mengobati atau menyembuhkan penyakit linglung ini memang harus disesuaikan dengan penyebabnya. Secara umum, delirium bisa ditangani dengan dua cara, yaitu:

1. Medikasi atau Pemberian Obat

Medikasi ini tentu melibatkan dokter dengan melibatkan beberapa jenis obat, seperti:

  • Obat antidepresan, yaitu obat untuk mengatasi depresi
  • Antibiotik, biasanya diberikan untuk mengobati linglung yang terjadi karena infeksi bakteri
  • Obat penenang, yaitu obat yang dapat meringankan efek berhenti konsumsi alkohol
  • Obat thiamine, yaitu obat untuk mengatasi kebingungan 
  • Penghalang dopamin, yaitu obat untuk membantu mengurangi keracunan akibat obat tertentu
  • Inhaler atau bantuan pernafasan jika linglung disebabkan oleh asma yang parah

2. Konseling

Pasien yang mengalami disorientasi biasanya bisa dengan diberikan konseling yang akan membantu untuk mengembalikan pikirannya yang terpencar. Konseling juga bisa untuk perawatan pada pasien yang linglung karena penggunaan obat atau konsumsi alkohol. Konseling akan membantu pasien berhenti dari kecanduan menggunakan zat-zat tertentu. 

Sebenarnya, konseling bertujuan membuat pasien yang mengalami kasus linglung atau delirium merasa nyaman dan menyediakan ruang aman. Sehingga mereka akan leluasa untuk membicarakan perasaan dan pikiran mereka.

Mengenal Arti Euforia dan Penyebabnya

Mengenal Arti Euforia dan Penyebabnya

Pernahkah Anda mengalami bahagia yang berlebihan? Nah, hati-hati, bisa jadi Anda sedang mengalami euforia. Arti euforia sendiri adalah adanya peningkatan perasaan bahagia yang berlebih dan menjadi sangat positif.

Namun, rasa bahagia yang dirasakan dan ditunjukkan dalam kondisi yang tidak wajar atau berlebihan dibandingkan rasa bahagia biasanya. Itulah kenapa euforia disebut salah satu gejala dari berbagai gangguan kesehatan mental.

Mengenal Gejala Euforia

Secara umum, arti euforia menggambarkan perasaan yang sangat bahagia yang dialami seseorang karena kondisi tertentu. Seperti tercapainya impian yang diinginkan atau meraih prestasi baru. 

Euforia juga bisa digambarkan sebagai kegembiraan yang berlebihan, luar biasa, melewati batas kewajaran, bahkan tidak punya alasan yang berdasar. 

Euforia bisa saja terjadi akibat penyalahgunaan zat narkotika atau obat terlarang, atau memang bagian dari gangguan kesehatan mental.

Euforia memiliki gejala yang bisa diamati, seperti merasa bahagia yang luar biasa, sangat gembira, riang berlebihan, merasa sejahtera, puas, percaya diri, merasa aman, hingga terbebas dari stres.

Jika euforia yang dialami berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, biasanya gejala juga diikuti oleh beberapa hal berikut:

  • Kebingungan
  • Mengalami halusinasi
  • Disorientasi
  • Mengalami paranoid
  • Mengalami kegelisahan
  • Adanya perubahan suasana hati

Penyebab Seseorang Mengalami Euforia

Munculnya euforia ini disebabkan oleh berbagai kondisi. Bisa karena adanya kepuasan seksual, mencapai prestasi yang diinginkan, mengalami peristiwa kehidupan yang membahagiakan, terwujudnya mimpi, hingga mendapatkan apa yang diinginkan dan didambakan. Bahkan, kondisi hati yang tengah jatuh cinta juga memicu euforia.

Ternyata, euforia juga bisa terjadi karena olahraga. Hal ini karena tubuh menghabiskan simpanan glikogen maka akan melepaskan hormon endorfin. Itulah yang menyebabkan terjadinya euforia. Akan tetapi ada pula euforia yang disebabkan karena pilihan gaya hidup atau kondisi mental yang terganggu.

  1. Skizofrenia

Euforia bisa terjadi karena gangguan skizofrenia. Apalagi jika pasien mengalami delusi dan halusinasi yang menggembirakan.

  1. Fase Manik

Euforia juga bisa disebabkan karena gangguan mental bipolar atau pun siklotimia yang bisa menyebabkan fase manik. Fase manik ini adalah kondisi saat seseorang mengalami euforia yang berlebihan dan diikuti juga oleh depresi mendalam.

Fase manik disebut juga mania, merupakan kondisi yang membuat seseorang mengalami euforia tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan euforia yang dialami bisa membahayakan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penderita yang berada di fase manik ini akan melakukan hal-hal seperti:

  • Tidak makan
  • Tidak tidur
  • Berisiko Lebih besar mengalami delusi, halusinasi, maupun gangguan persepsi lain
  • Melakukan hal-hal yang berisiko tinggi menyebabkan kerugian pada diri sendiri
  1. Penggunaan Zat-zat Terlarang

Euforia juga dapat disebabkan karena penggunaan zat-zat terlarang atau narkoba seperti ekstasi, ganja, heroin, dan sejenisnya. Orang yang memakai narkoba biasanya memicu munculnya perasaan euforia pada penggunanya.

  1. Hipoksia

Hipoksia atau kekurangan oksigen juga bisa menyebabkan seseorang mengalami euforia. Biasanya dialami oleh orang-orang yang mendaki gunung atau dataran tinggi secara cepat. 

  1. Gangguan Otak

Orang yang mengalami gangguan otak atau cedera di kepala biasanya mengalami euforia yang tidak biasa. Bisa disebabkan karena tumor atau cedera kepala yang bisa mengubah produksi neurotransmitter di otak. 

Dengan mengetahui arti euforia tersebut, Anda bisa segera tahu saat mengalaminya. Bila euforia yang dialami tanpa alasan dan kerap terjadi, sebaiknya kunjungi ahli kejiwaan atau psikiater. Apalagi jika hal tersebut sudah memengaruhi hal esensial bagi tubuh dan juga keselamatan Anda.

Sering Bingung, Apa Perbedaan Psikiater dengan Psikolog?

Sering Bingung, Apa Perbedaan Psikiater dengan Psikolog?

Apakah Anda sering bingung membedakan psikolog dengan psikiater? Apakah persamaan dan perbedaannya? Tenang, ternyata banyak orang yang hingga kini masih bingung harus menemui siapa ketika mengalami gangguan kesehatan mental.

Meskipun psikolog dan psikiater ini sama-sama membantu mengatasi masalah kesehatan mental, namun ada banyak sekali perbedaan di antara keduanya. Apa saja?

Perbedaan Psikiater dan Psikolog

Perbedaan keduanya bisa dilihat dari beberapa hal berikut ini, yaitu:

  1. Pendidikan

Psikiater merupakan seorang dokter medis lulusan kedokteran dengan beberapa tahun magang medis, serta beberapa tahun residensi dalam hal penilaian dan pengobatan gangguan kondisi kesehatan mental. 

Sedangkan psikolog merupakan seseorang yang memiliki gelar doktor untuk bidang psikologi. Sehingga psikolog bukanlah seorang dokter seperti psikiater. Tidak seperti psikiater, psikolog tidak bisa meresepkan obat untuk pasien.

  1. Pendekatan

Kedua profesi ini sama-sama dilatih psikoterapi, yaitu berbicara dengan pasien yang memiliki masalah gangguan kesehatan mental. Namun, pendekatan yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut tentu saja berbeda. 

Psikolog biasanya akan melakukan pendekatan dengan melihat perilaku pasien dari dekat. Misalnya saat menangani pasien yang mengalami depresi dan tidak dapat bangun dari tempat tidur. Biasanya psikolog akan melihat pola tidurnya, pola makan, hingga pikiran-pikiran negatif yang menyebabkan hal tersebut terjadi.

Sedangkan psikiater biasanya memiliki insting neurokimia dan biologi yang lebih kuat. Untuk kasus depresi yang sama, misalnya, psikiater akan memastikan apakah pasien mengalami masalah tiroid atau pasien kekurangan vitamin. 

Persamaan Psikiater dan Psikolog

Kesamaannya, baik psikiater maupun psikolog, keduanya merupakan praktisi kesehatan yang bertugas untuk membantu menangani masalah kesehatan mental seseorang. Keduanya bisa untuk membicarakan masalah yang dihadapi pasien. Mereka juga bertugas untuk memfasilitasi pasien dalam mengelola masalah kesehatan mental yang dialami.

Kapan Harus ke Psikiater atau Psikolog?

Ketika Anda mengalami gangguan kesehatan mental yang cukup serius seperti gangguan bipolar, depresi berat, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan stres pascatrauma, hingga masalah kesehatan mental yang membuat Anda sulit fokus, maka disarankan menemui psikiater. Sebab, kondisi-kondisi tersebut perlu diresepkan obat oleh psikiater. 

Obat yang biasa diresepkan psikiater adalah obat penenang, antidepresan, obat antipsikotik, hingga obat penstabil suasana hati. Selain meresepkan obat, psikiater juga menggunakan beberapa terapi untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang dihadapi oleh pasien, seperti electroconvulsive therapy atau pun terapi cahaya.

Karena psikiater dokter, mereka juga biasanya lebih mudah untuk berkolaborasi dengan dokter spesialis atau dokter perawatan primer lainnya. Namun, ketika masalah kesehatan mental yang tidak terlalu parah, biasanya siapa yang ditemui hanyalah soal pilihan pribadi saja. Jika psikiater mengandalkan obat untuk mengatasi masalah, maka psikolog akan melakukannya dengan pendekatan secara emosional.

Pemilihan apakah akan menemui psikiater atau psikolog sebaiknya juga berdasarkan jenis masalah yang dihadapi. Misalnya, jika Anda atau orang terdekat Anda mengalami depresi klinis, tentu sebaiknya bertemu psikiater karena gangguan yang dialami bisa diatasi dengan obat. Akan tetapi bila pasien mengalami gangguan mental berupa fobia, maka akan lebih efektif jika menemui psikolog.

Psikolog biasanya akan mengedepankan terapi bicara untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh pasien. Akan tetapi, jika pasien yang mereka rawat sudah memiliki gejala yang parah, biasanya psikolog akan menyarankan pasien untuk berkonsultasi dengan psikiater agar mendapat diagnosis yang lebih jelas sekaligus bisa diberikan obat.

Meski berbeda, psikiater dan psikolog sejatinya bisa saling bekerja sama dalam mengatasi permasalahan gangguan mental yang dialami oleh pasien. Misalnya dengan berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu untuk mendapatkan penanganan dari segi perilaku dan pola pikir. Secara paralel, pasien juga bisa memeriksakan diri ke psikiater untuk meminta pengobatan medis.

4 Manfaat TAT berserta Batasan Usianya

Thematic Apperception Test atau TAT merupakan salah satu jenis tes proyeksi dengan menjelaskan gambar ambigu. Menjadi metode yang populer dan dikenal sebagai teknik interpretasi gambar, hingga kini manfaat TAT membuat tes ini menjadi salah satu tes untuk menguji kepribadian yang paling banyak dipakai secara klinis.

Digagas oleh dua psikolog asal Amerika Serikat, Henry A. Murray dan Christina D.Morgan pada tahun 1930-an, tes proyeksi ini bisa dibilang sama seperti uji psikologis pada umumnya. Karena keberadaannya juga sempat menuai kontroversi, terutama terkait dengan metode penilaian yang tidak seragam.

Manfaat TAT

Tes ini didasarkan pada kebutuhan Murray yang melihat bahwa perilaku manusia muncul karena didorong oleh motivasi internal dan eksternal. Sementara lingkungan dipandang sebagai press atau tekanan yang memengaruhi dorongan tersebut. Kedua hal ini akan membentuk interaksi antara kebutuhan dan lingkungan yang disebut tema, berikut beberapa manfaat dari tes ini.

  • TAT bermanfaat dalam mempelajari secara keseluruhan kepribadian seseorang, hal ini bisa digunakan untuk menginterpretasi tingkah laku abnormal, penyakit psikosomatis dan neurose.
  • Tes ini bisa ditgunakan untuk anak dengan usia minimal 4 tahun jika memungkinkan, karena terdapat perangkat pelengkap TAT khsusu untuk anak-anak yakni CAT.
  • TAT memiliki manfaat khusus, yakni sebagai pendahuluan interview terapi yang merupakan langkah pertama dalam psikoanalisa.

Thematic Apperception Test dilakukan dengan menunjukkan beberapa kartu bergambar dengan karakter ambigu. Memiliki bentuk bisa berupa sosok perempuan, laki-laki, anak-anak, aktivitas tertentu dan juga situasi. Manfaat lebih jauh dari tes ini bisa digunakan terhadap beberapa kondisi seperti berikut ini.

  • Mengenal Personal Lebih Jauh

Tes TAT bisa digunakan sebagai ice breaker ketika menjalankan ses konseling, sehingga subjek atau personal bisa merasa lebih rileks dan leluasa dalam bercerita. Kondisi ini juga bisa membuat terapis mengetahui konflik emosional yang mungkin dimiliki sang klien.

  • Bantu Ungkap Perasaan

Tes ini kerap digunakan sebagai alat terapi yang memudahkan klien mengungkapkan perasaan mereka secara tidak langsung. Kemungkinan subjek dapat menyampaikan apa yang mereka rasakan secara gamblang, meskipun dalam sudut pandang terapis mampu mengidentifikasi emosi.

  • Gali Pengalaman Hidup

Personal yang tengah menghadapi masalah seperti kehilangan pekerjaan, perceraian atau terminal ilnees dapat menginterpretasikan gambar dalam kartu dengan konteks apa yang tengah dialami. Terapis bisa menggunakan cara ini melakukan eksplorasi lebih jauh sepanjang konseling dilakukan.

  • Memeriksa Kondisi Psikologis

Terkadang tes TAT juga bisa digunakan sebagai metode dalam menilai kepribadian atau pola pikir seseorang, misalnya untuk mencari apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah psikologis atau tidak.

  • Evaluasi Terduga Tindak Kriminal

Selain digunakan untuk uji klinis, tes TAT bisa dipakai untuk menilai risiko seseorang mengulangi tindakan kriminal yang pernah dilakukan. Bisa juga mencocokan apakah personal seseorang itu cocok dengan terduga pelaku tindak kriminal tertentu, pada umumnya dipakai dalam psikologi forensik.

  • Tes Perekrutan Karyawan

Tes ini sering kali digunakan dalam proses perekrutan karyawan, terutama dalam menilai kepribadian pelamar kerja. Namun lebih khusus dipakai jika jabatan pekerjaan lebih rentan berhadapan dengan stres dan situasi serba tak pasti.

Batasan Usia

Untuk anak laki-laki dan perempuan pada usia 4 sampai 14 tahun, sementara untuk prria dan wanita berusia 14 tahun ke atas. Meskipun manfaat TAT bisa digunakan untuk anak usia 4-14 tahun, namun untuk anak usia 3-10 tahun lebih baik disarankan menggunakan CAT, sementara untuk usia 10 tahun ke atas menggunakan TAT.

6 Fakta Menarik soal Fear of Abandonment

Tidak satu orang pun di dunia yang bahagia ketika mengalami kehilangan. Rasa sedih dan kecewa pasti terjadi ketika Anda harus berhadapan dengan kehilangan orang yang Anda sayangi. Namun, beberapa orang menanggapi kesedihan tersebut dengan perilaku yang ekstrem, yang dikenal dengan istilah fear abandonment.

Fear of abandonment merupakan ketakutan luar biasa yang ditunjukkan seseorang kepada isu kehilangan orang yang disayanginya. Umumnya, ketakutan yang melebihi normal ini terbentuk dari trauma masa lalu. Ketakutan tersebut menjadi tidak wajar karena orang yang terkena fear of abandonment akan mengaplikasikan ketakutannya ke dalam bentuk rasa tidak percaya kepada orang lain sampai berusaha mencelakakan diri sendiri jika situasi tidak berjalan sesuai keinginannya.

Masalah perilaku ini pun sudah lama dilirik sebagai penelitian kejiwaan. Banyak fakta akhirnya ditemukan mengenai fear pf abandonment ini. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang rasa takut kehilangan yang luar biasa tersebut.

  1. Bukan Masalah Psikologis

Perilaku ekstrem yang ditunjukkan oleh orang yang mengalami fear of abandonment dinyatakan bukan bagian dari masalah psikologis. Ketakutan kehilangan yang luar biasa ini hanya bentuk penyimpangan perilaku akibat trauma akan ketakutan yang pernah dialami sebelumnya.

  • Dipicu Perilaku Lain

Orang-orang yang mengalami fear of abandonment umumnya terpicu oleh masalah perilaku lainnya yang sudah terlebih dahulu ada. Avoidant personality disorderdanborderline personality disorder yang merupakan perilaku yang mengarah pada penarikan diri dari lingkungan sosial kerpa menjadi pemicu ketakutan kehilangan yang luar biasa.

  • Dimulai dari Balita

Usia anak-anak menjadi penentuan seseorang terkena fear of abandonment atau tidak. Pasalnya, kebanyakan gejala ketakutan luar biasa ini dimulai ketika usia seseorang masih 3 tahun alias balita. Banyak yang bisa memulihkan kondisinya sendiri secara natural, namun banyak pula yang masih menyimpan ketakutan luar biasa tersebut hingga dewasa. Orang-orang yang tidak mampu menanggalkan ketakutannnya hingga dewasa inilah yang akhirnya membentuk masalah perilaku yang cukup serius.

  • Bukan Hanya Kematian

Kehilangan yang amat ditakuti oleh orang-orang dengan fear of abandonment tidak hanya menyangkut soal kematian orang yang disayangi. Rasa takut yang luar biasa juga mengarah pada takut akan ditinggal pergi oleh orang-orang yang disayanginya tersebut. Bukan hanya soal fisik, rasa takut ditinggalkan oleh orang yang mengidap fear of abandonment juga menyangkut pelepasan secara emosional.

  • Berpengaruh ke Percintaan

Orang-orang dengan fear of abandonment cenderung memiliki hubungan percintaan yang tidak mulus. Rasa takut kehilangan yang berlebihan membuat orang dengan fear of abandonment berupaya terus menyenangkan pasangannya, walaupun terkadang menyakiti dirinya sendiri. Di sisi lain, tidak jarang orang-orang dengan rasa takut yang berlebih ini berubah menjadi sosok yang posesif guna menjaga pasangannya tetap berada di sisinya alias tidak pernah meninggalkannya. Faktanya upaya penjagaan yang berlebihan tersebut tak jarang membuat hubungan justru berakhir buruk.

  • Terapi Pasangan

Bisakah fear of abandonment dihilangan dari perilaku seseorang? Jawabannya jelas, bisa. Orang dengan ketakutan luar biasa ini bisa memutuskan untuk melakukan terapi dengan tenaga ahli kejiwaan untuk secara perlahan menghilangkan ketakutannya secara sedikit demi sedikit. Selain itu, ada sebuah fakta yang menarik bahwa terapi pasangan terhadap orang yang berperilaku fear of abandonment juga ampuh menjadi penyembuh. Di mana pasangan dari orang yang memiliki ketakutan kehilangan yang luar biasa secara konsisten meyakinkan orang tersebut bahwa akan selalu ada dia di sisinya.

Bagaimanapun ketakutan mesti dihadapi. Ketika fear of abandonment mulai menyerang Anda, meyakinkan diri sendiri bahwa Anda dicintai dan kehidupan memang memiliki siklus akhir kematian merupakan stimulasi yang baiknya terus Anda gaungkan dalam diri.