Altitude Sickness

Altitude sickness merupakan gejala yang dialami penderita dimana mereka mendaki di tempat yang tinggi dengan terlalu cepat. Kondisi tersebut juga bisa dialami ketika penderita merasa tidak tahan di ketinggian tertentu.

Orang-orang bisa mengalami altitude sickness ketika mereka berada di ketinggian lebih dari 250 meter. Semakin cepat seseorang berada di ketinggian tertentu, semakin besar risiko gejala yang akan dialami.

Pada umumnya, altitude sickness dipengaruhi oleh kondisi tubuh seseorang dan medan pendakian yang dilewati. Jika medan yang dilewati seseorang tinggi, mereka akan membutuhkan energi lebih banyak untuk melewati permukaan tersebut.

Gejala

Altitude sickness juga dapat menimbulkan berbagai gejala, namun berbeda-beda bagi setiap orang. Gejala-gejala yang dialami penderita ditentukan oleh derajat beratnya medan yang dilewati. Berikut adalah informasi secara spesifik tentang derajat berat medan:

  1. Derajat ringan

Seseorang yang melewati derajat ringan bisa merasa lelah, pusing, sesak nafas, nafsu makan berkurang, badan tidak enak, dan kesulitan untuk tidur. Gejala-gejala tersebut bisa terjadi dalam 12 hingga 24 jam setelah seseorang mendaki di medan tersebut. Gejalanya juga akan berkurang dalam waktu yang sama karena tubuh mereka sudah semakin terbiasa terhadap hal tersebut.

  • Derajat sedang

Pada dasarnya, seseorang yang melewati derajat sedang akan mengalami gejala yang sama seperti derajat ringan. Namun, gejala yang dialami akan semakin memburuk. Hal tersebut juga akan membuat penderita kehilangan kondisi tubuh dan merasa sulit untuk berjalan. Proses pemulihan akibat gejala yang dialami bisa membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan derajat ringan.

  • Derajat berat

Seseorang yang melewati derajat berat akan mengalami gejala yang parah sehingga membutuhkan perawatan secepatnya. Gejala-gejala yang bisa dialami penderita adalah tubuh terasa sesak, tidak bisa berjalan, merasa bingung, batuk, kulit memucat, dan adanya cairan pada bagian paru dan otak.

Penyebab

Seseorang yang mengalami altitude sickness dipengaruhi oleh kondisi tubuh. Sebagian orang mungkin merasa kuat untuk mendaki, namun sebagian orang merasa lemah untuk melakukan hal tersebut.

Selain itu, mendaki terlalu cepat di suatu ketinggian dapat mempengaruhi kondisi mereka, apakah kondisinya akan memburuk atau tidak. Tubuh manusia membutuhkan waktu satu hingga tiga hari untuk beradaptasi di ketinggian tertentu.

Selain kondisi tubuh manusia dan kecepatan mendaki, altitude sickness juga dipengaruhi oleh aktivitas yang terlalu berat dalam waktu 24 jam pendakian, hipotermia, kurangnya asupan cairan pada tubuh, dan mengkonsumsi alkohol atau zat sedatif.

Diagnosis

Jika Anda mengalami altitude sickness, Anda perlu periksa diri ke dokter. Dokter akan melakukan diagnosis terhadap kondisi Anda dengan melakukan pemeriksaan fisik yang meliputi pemeriksaan dada (jika terdapat cairan di bagian paru) dan tanda-tanda vital.

Pengobatan

Untuk mengobati altitude sickness, Anda sebaiknya beristirahat sampai kondisi Anda pulih. Namun, jika kondisi yang Anda alami tergolong ringan seperti merasa lelah, Anda bisa melanjutkan pendakiannya, namun Anda perlu mendaki lebih pelan.

Selain itu, Anda juga sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi air putih dan membawa obat untuk membantu menjaga kondisi tubuh. Anda sebaiknya tidak melakukan kebiasaan buruk dengan merokok, mengkonsumsi alkohol, atau mengkonsumsi zat sedatif.

Kesimpulan


Altitude sickness merupakan gangguan yang perlu diwaspadai, karena gangguan tersebut dapat menimbulkan berbagai gejala, baik ringan maupun berat. Oleh karena itu, jika Anda ingin melakukan pendakian, pastikan Anda menjaga kondisi Anda dan bawa perlengkapan sesuai kebutuhan, terutama yang dapat membantu mengobati gejala yang bisa Anda alami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *